Multitasking: Benarkah Membuat Kita Lebih Produktif?
Pernah merasa sudah mengerjakan banyak hal sekaligus, tetapi di akhir hari justru masih banyak pekerjaan yang belum selesai?
Membalas email sambil mengikuti meeting. Membuat laporan sambil sesekali mengecek WhatsApp. Atau mengerjakan presentasi sambil membuka banyak tab di browser.
Kita sering menyebutnya multitasking. Kelihatannya produktif karena beberapa pekerjaan berjalan bersamaan. Tapi, benarkah demikian?
Ternyata, Otak Tidak Benar-Benar Mengerjakan Semuanya Bersamaan
Dalam banyak aktivitas yang kita sebut multitasking, sebenarnya kita lebih sering melakukan task switching—berpindah perhatian dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.
Setiap kali berpindah tugas, otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan kembali fokus dan aturan yang digunakan. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Psychology menemukan adanya waktu yang hilang ketika seseorang berpindah dari satu tugas ke tugas lain, terutama ketika tugasnya semakin kompleks atau belum familiar.
Contohnya sederhana.
Kita sedang membuat laporan, kemudian muncul notifikasi WhatsApp. Kita membalas pesan tersebut, lalu kembali ke laporan.
Kelihatannya hanya membutuhkan waktu satu menit.
Namun, setelah kembali ke laporan, kita mungkin perlu membaca ulang kalimat terakhir, mengingat apa yang sedang dipikirkan, lalu kembali membangun fokus. Waktu yang hilang bukan hanya ketika membalas pesan, tetapi juga saat mengembalikan perhatian ke pekerjaan sebelumnya.
Jadi, Haruskah Kita Berhenti Multitasking?
Tidak selalu.
Beberapa aktivitas sederhana dan sudah terbiasa dilakukan mungkin masih bisa dilakukan bersamaan. Namun, untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi, kreativitas, analisis, atau pengambilan keputusan, berpindah-pindah perhatian terlalu sering dapat membuat pekerjaan menjadi kurang efisien.
Penelitian tentang gangguan pekerjaan juga menunjukkan bahwa seseorang bisa menyelesaikan tugas yang terinterupsi dengan lebih cepat, tetapi hal tersebut dapat disertai peningkatan stres, frustrasi, tekanan waktu, dan usaha mental.
Bukan Multitasking, Tapi Smart Tasking
Daripada berusaha mengerjakan semuanya sekaligus, kita bisa mencoba cara yang lebih sederhana:
- Tentukan satu pekerjaan utama yang perlu diselesaikan.
- Matikan notifikasi yang tidak penting ketika membutuhkan fokus.
- Kelompokkan pekerjaan sejenis, misalnya membalas email dalam satu waktu tertentu.
- Berikan jeda setelah menyelesaikan satu bagian pekerjaan.
- Saat sedang mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, hindari terlalu sering berpindah perhatian.
Produktif bukan berarti mengerjakan sebanyak mungkin hal dalam waktu yang sama. Kadang, produktivitas justru berarti tahu apa yang harus dikerjakan sekarang dan memberikan perhatian penuh pada pekerjaan tersebut. Bukan semakin banyak yang dikerjakan sekaligus, tetapi semakin efektif kita menyelesaikan hal yang memang penting.
📚 Sumber
- American Psychological Association — Multitasking: Switching Costs
- Rubinstein, Meyer & Evans (2001), Executive Control of Cognitive Processes in Task Switching, Journal of Experimental Psychology: Human Perception and Performance.
- Mark, Gudith & Klocke (2008), The Cost of Interrupted Work: More Speed and Stress.